Alhamdulillah. Alam ini sungguh indah.
Hadiah daripada Tuhan.
Tak pernah Dia menuntut perkiraan,
Tak pernah Dia menuntut perkiraan,
apatah lagi untuk Dia mengungkit-ungkit pemberian.
Euphorbia milii
Phalaenopsis ungu

Dendrobium selepas hujan

Dalam hati ada taman, dalam taman ada hati...

Namun begitu, sekali sekala Dia terkadang mengambil apa yang pernah diberi, seraya ingatan bahawa tidak selama nikmat kita kecapi.
Terima kasih Tuhan,
maka nikmat Tuhan yang mana satukah ingin kamu DUSTAkan?
Syukurlah.







Tidak puas rasanya melihat panorama di desa yang indah ini. Pemandangan yang jarang-jarang dapat dilihat oleh manusia yang tinggal di kota. Melihatnya, segala kenangan dan ingatan zaman kecilku bersama adik-adik bergelumang dengan lumpur di bendang menjadi semakin kuat. Turunkan cermin tingkap kereta anda, dan bau lumpur sawah menerobos masuk ke hidung.. ohh, bau desa yang permai!
Dari tingkat 4 bangunan kelas saya mengajar, saya suka sekali melihat pemandangan ini, dan saya lebih suka menatapnya berulang-ulang kali lebih-lebih apabila dilanda rasa sendu. Pemandangan ini menenangkan dan mendamaikan jiwa. Panorama indah yang mengasyikkan, kelihatan dari kejauhan bukit-bukau yang seolah-olah menyapu awan, seperti lukisan!. Itulah lebihnya mengajar di sekolah yang terletak di ceruk desa. Segala resah dan gundah melayani karenah anak-anak yang pelbagai ragam terasa terubat dengan pemandangan seperti ini. Dan, rasanya lebih menenangkan jiwa daripada menatap dinding-dinding bangunan sekolah yang kusam dan lesu itu.







Adik-adik budak demuk ni kalau tak tidur, bergurau saja kerja mereka sampai bergoyang-goyang kereta.